Jumat, 10 Desember 2010
Anggrek Sumbar Unik
Rabu, 01 Desember 2010
Konservasi Harus Pertimbangkan Manfaat

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti LIPI dari UPT PKT Kebun Raya Cibodas, Dr. Didik Widyatmoko, Msc, mengkritisi penetapan spesies prioritas konservasi oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yang tidak memasukkan unsur kemanfaatan sebagai salah satu variabel.
Unsur kemanfaatan dinilai penting sebagai salah satu pertimbangan dalam menetapkan suatu jenis tumbuhan masuk dalam prioritas konservasi. Berdasarkan IUCN, semakin dekat dengan kepunahan, maka tingkat kelangkaan spesies semakin tinggi. "Tetapi tidak memasukkan unsur manfaat. Padahal, unsur manfaat ini penting. Untuk apa konservasi kalau tidak ada manfaatnya? Ke depannya, unsur komponen manfaat ini perlu dimasukkan," kata Didik, dalam jumpa pers di sela Workshop Penetapan Spesies Prioritas Konservasi Dipterocarpaceae & Thymelaeaceae, di Gedung Konservasi LIPI, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (27/9/2010).
Duh, Meranti Terancam Punah
BOGOR, KOMPAS.com — Populasi tumbuhan kayu meranti mendekati kepunahan. Meranti yang merupakan spesies dari familiDipterocarpaceae masuk dalam penetapan spesies prioritas konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.
Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo, Senin (27/9/2010), mengatakan, meranti bersama tumbuhan lain dalam familiDipterocarpaceae seperti kayu kapur, kruing, dan bengkirai menjadi spesies yang paling banyak dimanfaatkan manusia. Namun, pengeksplorasian besar-besaran terhadap tumbuhan ini membuat populasinya terus berkurang.
Orangutan Terdesak ke Gunung

DENPASAR, KOMPAS.com - Populasi orangutan terus terus mengalami tekanan karena habitatnya terus berkurang akibat pembukaan lahan. Makhluk primata eksotis khas Indonesia itu pun terpaksa bertahan di habitat yang jauh dari manusia. Bahkan diperkirakan ada kecenderungan populasi orangutan mulai berpindah dari kawasan rendah ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi.
Orangutan Sumatera Dipasangi Transmiter

JAMBI, KOMPAS.com - Enam orangutan(pongo abelii) menjalani operasi implantasi untuk pemasangan transmiter, alat pengirim sinyal. Orangutan yang dipasang alat ini akan memberikan data distribusi bagi peneliti pada sepanjang area jelajah satwa ini dalam ekosistem Bukit Tigapuluh, Provinsi Jambi.
Menurut Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera FZS Julius Paolo Siregar, Senin (4/10/2010), Operasi pemasangan transmiter dilakukan tim dokter hewan Perth Zoo bersama Frankfurt Zoological Society (FZS), di Stasiun Reintroduksi Orangutan, Sungai Pengian, Sumay, Kabupaten Tebo, dua pekan lalu.
Keanekaragaman Hayati Modal Daya Saing
Indonesia Inginkan Keuntungan Hayati
JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah Indonesia akan berjuang mendapatkan pembagian keuntungan dari negara-negara asing yang memanfaatkan keragaman hayati nusantara. Hal itu akan disampaikan dalam Konferensi Antarpihak untuk Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP-10 CBD) di Nagoya, Jepang, akhir bulan ini.
Macan Tutul Gunung Halimun 56 Ekor

LEBAK, KOMPAS.com - Populasi macan tutul (Panthera pardus) di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, bertambah menjadi 56 ekor dari sebelumnya 53 ekor.
"Bertambahnya populasi macan tutul itu tentu cukup menggembirakan karena bisa berkembang biak," kata Kepala Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah Kabupaten Lebak Pepen Efendi, Jumat (8/10/2010).
Pepen mengatakan, pihaknya terus melakukan pengamanan ketat dengan melibatkan anggota polisi hutan (Jagawana) dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.
"Jika ditemukan pemburuan macan tutul kami akan menindak mereka karena satwa itu dilindungi pemerintah," katanya. Menurut dia, bertambahnya populasi macan tutul tersebut karena mereka merasa aman di habitatnya.
Data Perubahan Iklim di Kotoran Hewan
HyraxKanguru dan Rusa Terus Diburu

MERAUKE, KOMPAS.com
Adanya perburuan terhadap kanguru dan rusa ini terlihat dari dijualnya daging kanguru dan rusa di Pasar Baru di kota Merauke. Harga daging kanguru dijual dengan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram (kg), sedangkan daging rusa dijual sekitar Rp 30.000 per kg.
Sejumlah pedagang, Senin (18/10/2010), mengatakan, daging kanguru dan rusa yang dijual selalu habis terjual. ”Khusus kanguru, tidak sampai dua jam sudah habis. Pembelinya banyak, sedangkan dagingnya terbatas karena kanguru sudah sulit diburu,” ujar Rohani (40), salah seorang pedagang. Ngatmi (42), pedagang lainnya, menambahkan, kanguru dan rusa dibelinya dari masyarakat asli Papua yang memburunya di Taman Nasional (TN) Wasur.
Pelepasliaran Harimau Dahan Terkendala
Jambi, Kompas -
Bella Dilepas ke TN Bukit Tigapuluh

JAMBI, KOMPAS.com - Bella, harimau dahan hasil sitaan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Selasa (19/10/2010). Dengan kondisi tutupan hutan yang masih baik, Bella diharapkan dapat bertahan hidup di kawasan tersebut.
Bella diberangkatkan Selasa siang, sekitar pukul 13.00, dan menempuh perjalanan sekitar tiga jam menuju lokasi pelepasliaran. Dari sebuah kandang besi berukuran 1,5x2 meter, Bella akan dilepas di Bukit Lancang, yang merupakan salah satu bukit dalam kawasan TNBT, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Karang di Muna dan Bombana Rusak Parah

KENDARI, KOMPAS.com - Perairan laut Kabupaten Muna dan Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mengalami kerusakan terumbu karang yang sangat parah. Hal itu disebabkan karena adanya aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
"Kerusakan terumbu karang di seluruh wilayah perairan Sultra mencapai sekitar 40 persen, dan sekitar 50 persen dari terumbu karang yang rusak tersebut terdapat di wilayah perairan laut Muna dan Bombana," kata Kepala Dinas Kelautanan dan Perikanan Sultra Abdul Salam di Kendari, hari Senin (25/10/10).
Kisah Pemuliaan Anggrek di Taman Ria Loka
Setidaknya, begitulah yang kami saksikan ketika Shopia, Kepala Laboratorium Taman Anggrek Ria Loka Sri Soedewi MS, tengah berkutat dengan biji anggrek Phalainopsis violacea, salah satu jenis asli Jambi.
Anggrek Pensil di Danau Dendam Tak Sudah

BENGKULU, KOMPAS.com - Balai konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu berhasil membudidayakan anggrek pensil yang terancam punah di sekitar Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu.
"Anggrek pensil (vanda hookeriana) itu awalnya ditemukan beberapa batang pada habitatnya di kawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) kemudian dibudidayakan," kata Kabag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Suaprtono, Rabu (18/8/2010).
Anggrek Terbaik di Dunia Itu Hilang
BANJARMASIN, KOMPAS.com — Anggrek terbaik di dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut ataupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.
Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Selatan Aida Muslimah di Banjarmasin, Sabtu (4/9/2010), mengatakan, anggrek lokal Phalaenopsis amabilis di dunia ini hanya ada di tiga tempat, yaitu dua tempat di Indonesia, di Bogor dan Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut; dan di Filipina.
Dari tiga tempat tersebut, kata Aida, yang hadir dalam acara buka bersama komunitas jurnalis "Pena Hijau" Kalsel, anggrek bulan Pelaihari yang paling bagus dijadikan sebagai inti silang. Hal ini disebabkan ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada anggrek jenis lainnya di daerah lain.
Dua Jenis Anggrek Sudah Sulit Dijumpai

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Sedikitnya dua jenis anggrek endemis Kalimantan Selatan, yakni Dendrobium lowii dan Dendrobium hepaticum saat ini sangat sulit ditemukan di alam liar. Untuk mendapatkan jenis anggrek ini orang harus berburu ke penangkar, bahkan membeli ke penangkar anggrek di luar negeri.
Anggrek Endemik Spesies Baru

JAKARTA, KOMPAS.com —
”Spesimen kedua jenis anggrek ini telah kami ambil sejak dua tahun lalu. Kemudian kami mengerjakan sketsa morfologi taksonominya. Sekarang, melalui sebuah jurnal ilmiah internasional, itu dinyatakan sebagai spesies baru,” kata peneliti botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala, dari Unit Pelaksana Teknis Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (27/9/2010).
Ketiga penemu kedua spesies baru yang diberi nama Dendrobium flos-wanua dan Dendrobium dianae itu adalah Destario Metusala, Peter O’Byrne (praktisi anggrek di Singapura), dan JJ Wood (peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden, Inggris).
Kakatua Terancam Punah
BOGOR, KOMPAS.com — Burung kakatua di Indonesia yang tersebar di kawasan Wallacea terancam punah pada berbagai tingkatan. Tiga dari tujuh jenis kakatua yang endemik (hanya ada di Indonesia) adalah kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua putih (Cacatua alba), dan kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana). Sementara itu, kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), yang juga terdapat di Timor Leste, memiliki status keterancaman tertinggi, yaitu kritis.
Demikian siaran pers yang dikeluarkan Burung Indonesia, yang ditandatangani Fahrul P Amama, Communication and Media Relations Burung Indonesia, Senin (1/11/2010). Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestari Burung Liar Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan Bird Life Internasional (berkedudukan di Inggris) yang memfokuskan pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah.
