Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

Anggrek Sumbar Unik


Padang, Kompas - Keberadaan ribuan jenis anggrek endemik dari Sumatera Barat mendesak untuk diidentifikasi, didokumentasikan, dan dibudidayakan untuk mencegah kepunahan. Saat ini, dari ribuan anggrek spesies di Sumatera Barat, baru sekitar 30 spesies yang sudah diidentifikasi.

Rabu, 01 Desember 2010

Konservasi Harus Pertimbangkan Manfaat


KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Komunitas Indonesia Goes Green membagikan beragam jenis tanaman produktif kepada pengguna jalan yang melintas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (4/6). Lebih dari 600 tanaman dibagikan untuk menularkan kepedulian masyarakat terhadap pemanasan global.

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti LIPI dari UPT PKT Kebun Raya Cibodas, Dr. Didik Widyatmoko, Msc, mengkritisi penetapan spesies prioritas konservasi oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yang tidak memasukkan unsur kemanfaatan sebagai salah satu variabel.

Unsur kemanfaatan dinilai penting sebagai salah satu pertimbangan dalam menetapkan suatu jenis tumbuhan masuk dalam prioritas konservasi. Berdasarkan IUCN, semakin dekat dengan kepunahan, maka tingkat kelangkaan spesies semakin tinggi. "Tetapi tidak memasukkan unsur manfaat. Padahal, unsur manfaat ini penting. Untuk apa konservasi kalau tidak ada manfaatnya? Ke depannya, unsur komponen manfaat ini perlu dimasukkan," kata Didik, dalam jumpa pers di sela Workshop Penetapan Spesies Prioritas Konservasi Dipterocarpaceae & Thymelaeaceae, di Gedung Konservasi LIPI, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (27/9/2010).

Duh, Meranti Terancam Punah



BOGOR, KOMPAS.com — Populasi tumbuhan kayu meranti mendekati kepunahan. Meranti yang merupakan spesies dari familiDipterocarpaceae masuk dalam penetapan spesies prioritas konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.

Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo, Senin (27/9/2010), mengatakan, meranti bersama tumbuhan lain dalam familiDipterocarpaceae seperti kayu kapur, kruing, dan bengkirai menjadi spesies yang paling banyak dimanfaatkan manusia. Namun, pengeksplorasian besar-besaran terhadap tumbuhan ini membuat populasinya terus berkurang.

Orangutan Terdesak ke Gunung


Laporan wartawan KOMPAS.com Tri Wahono

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Seekor bayi orangutan (Pongo pygmaeus) berusia satu bulan bernama Zumi berlindung dalam dekapan induknya yang bernama Sarah (15) di Kebun Binatang Bandung, Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/4/2010). Bayi orangutan dari pejantan Simon (40) ini diharapkan bisa menjadi penerus populasi satawa orangutan yang terancam punah.


DENPASAR, KOMPAS.com
- Populasi orangutan terus terus mengalami tekanan karena habitatnya terus berkurang akibat pembukaan lahan. Makhluk primata eksotis khas Indonesia itu pun terpaksa bertahan di habitat yang jauh dari manusia. Bahkan diperkirakan ada kecenderungan populasi orangutan mulai berpindah dari kawasan rendah ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi.

Orangutan Sumatera Dipasangi Transmiter

Senin, 4 Oktober 2010 | 18:18 WIB
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Seekor bayi orangutanm punah.

JAMBI, KOMPAS.com - Enam orangutan(pongo abelii) menjalani operasi implantasi untuk pemasangan transmiter, alat pengirim sinyal. Orangutan yang dipasang alat ini akan memberikan data distribusi bagi peneliti pada sepanjang area jelajah satwa ini dalam ekosistem Bukit Tigapuluh, Provinsi Jambi.

Transmiter akan mempermudah pengamatan dan pengawasan orangutan.
-- Julius Paolo Siregar

Menurut Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera FZS Julius Paolo Siregar, Senin (4/10/2010), Operasi pemasangan transmiter dilakukan tim dokter hewan Perth Zoo bersama Frankfurt Zoological Society (FZS), di Stasiun Reintroduksi Orangutan, Sungai Pengian, Sumay, Kabupaten Tebo, dua pekan lalu.

Keanekaragaman Hayati Modal Daya Saing


Cibinong, Kompas - Tingginya tingkat keanekaragaman hayati Indonesia merupakan modal peningkatan kemandirian dan daya saing. Hal itu dinyatakan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Umar Anggara Jenie pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Sabtu (22/5).
”Keanekaragaman hayati Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia. Indonesia memiliki lebih dari 38.000 jenis tumbuhan, 55 persen di antaranya tumbuhan yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Pada tiap 10.000 kilometer persegi lahan di Jawa, terdapat 2.000–3.000 jenis tumbuhan. Pada tiap 10.000 km persegi lahan di Kalimantan dan Papua terdapat lebih dari 5.000 jenis tumbuhan,” kata Umar.
Keanekaragaman hayati itu, menurut Umar, merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Alih-alih termanfaatkan maksimal untuk penemuan obat atau pemuliaan benih dan penemuan alternatif bahan pangan, keanekaragaman hayati tererosi dari waktu ke waktu. Umar mengingatkan, Guinness Book of Record edisi 2008 mencatat, Indonesia sebagai pemegang rekor deforestasi tertinggi di dunia.

Indonesia Inginkan Keuntungan Hayati


Rabu, 6 Oktober 2010 | 20:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah Indonesia akan berjuang mendapatkan pembagian keuntungan dari negara-negara asing yang memanfaatkan keragaman hayati nusantara. Hal itu akan disampaikan dalam Konferensi Antarpihak untuk Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP-10 CBD) di Nagoya, Jepang, akhir bulan ini.

Macan Tutul Gunung Halimun 56 Ekor


Jumat, 8 Oktober 2010 | 17:48 WIB
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Aceng, seekor macan tutul yang terjerat jebakan babi hutan tahun lalu akan dilepaskan kembali ke hutan Gunung Karang, Pandegelang, Banten, Kamis (18/6).

LEBAK, KOMPAS.com - Populasi macan tutul (Panthera pardus) di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, bertambah menjadi 56 ekor dari sebelumnya 53 ekor.

"Bertambahnya populasi macan tutul itu tentu cukup menggembirakan karena bisa berkembang biak," kata Kepala Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah Kabupaten Lebak Pepen Efendi, Jumat (8/10/2010).

Pepen mengatakan, pihaknya terus melakukan pengamanan ketat dengan melibatkan anggota polisi hutan (Jagawana) dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

"Jika ditemukan pemburuan macan tutul kami akan menindak mereka karena satwa itu dilindungi pemerintah," katanya. Menurut dia, bertambahnya populasi macan tutul tersebut karena mereka merasa aman di habitatnya.

Data Perubahan Iklim di Kotoran Hewan

Senin, 18 Oktober 2010 | 20:44 WIB
Hyrax
LONDON, KOMPAS.com - Para ilmuwan dari Universitas Leicester, Inggris menggunakan sampel yang tak biasa untuk menganalisis perubahan iklim, yaitu dengan kotoran hyrax batu (Procavia capensis). Hyrax adalah spesies hewan pengerat sebesar kelinci namun lebih dekat kekerabatannya dengan gajah. Hewan ini banyak ditemukan di negara-negara Afrika seperti Namibia dan Bostwana.

Kanguru dan Rusa Terus Diburu

TAMAN NASIONAL

KOMPAS/ASWIN RIZAL HARAHAP
Pekerja menjemur daging rusa untuk bahan pembuatan dendeng di tempat penjualan Tifa Rusa di Jalan Ahmad Yani, Merauke, Papua, Senin (18/10). Dendeng rusa yang menjadi oleh-oleh khas Merauke itu dijual seharga Rp 100.000 per kilogram.

MERAUKE, KOMPAS.com - Perburuan terhadap kanguru dan rusa, dua hewan yang dilindungi yang hidup di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua, terus terjadi. Aktivitas perburuan mengancam populasi kanguru dan rusa yang hidup di taman nasional seluas 413.810 hektar tersebut.

Adanya perburuan terhadap kanguru dan rusa ini terlihat dari dijualnya daging kanguru dan rusa di Pasar Baru di kota Merauke. Harga daging kanguru dijual dengan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram (kg), sedangkan daging rusa dijual sekitar Rp 30.000 per kg.

Sejumlah pedagang, Senin (18/10/2010), mengatakan, daging kanguru dan rusa yang dijual selalu habis terjual. ”Khusus kanguru, tidak sampai dua jam sudah habis. Pembelinya banyak, sedangkan dagingnya terbatas karena kanguru sudah sulit diburu,” ujar Rohani (40), salah seorang pedagang. Ngatmi (42), pedagang lainnya, menambahkan, kanguru dan rusa dibelinya dari masyarakat asli Papua yang memburunya di Taman Nasional (TN) Wasur.

Pelepasliaran Harimau Dahan Terkendala

SATWA LANGKA

Jambi, Kompas - Pelepasliaran Bella, harimau dahan hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, belum juga terlaksana. Pasalnya, BKSDA belum memperoleh lokasi yang aman bagi satwa liar yang telah 1,5 tahun tinggal di dalam kandang besi.

Bella Dilepas ke TN Bukit Tigapuluh

SATWA LIAR

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
Bella, harimau dahan yang disita dari pemiliknya di Kabupaten Bungo, Jambi, kini berada dalam kandang sementara di kantor Frankfurt Zoological Society, Kota Jambi. Harimau ini tidak dapat dilepasliarkan secara cepat karena masih dijadikan barang bukti proses hukum.

JAMBI, KOMPAS.com - Bella, harimau dahan hasil sitaan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Selasa (19/10/2010). Dengan kondisi tutupan hutan yang masih baik, Bella diharapkan dapat bertahan hidup di kawasan tersebut.

Bella diberangkatkan Selasa siang, sekitar pukul 13.00, dan menempuh perjalanan sekitar tiga jam menuju lokasi pelepasliaran. Dari sebuah kandang besi berukuran 1,5x2 meter, Bella akan dilepas di Bukit Lancang, yang merupakan salah satu bukit dalam kawasan TNBT, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.


Karang di Muna dan Bombana Rusak Parah

Selasa, 26 Oktober 2010 | 09:35 WIB
KOMPAS/LASTI KURNIA

KENDARI, KOMPAS.com - Perairan laut Kabupaten Muna dan Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mengalami kerusakan terumbu karang yang sangat parah. Hal itu disebabkan karena adanya aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

"Kerusakan terumbu karang di seluruh wilayah perairan Sultra mencapai sekitar 40 persen, dan sekitar 50 persen dari terumbu karang yang rusak tersebut terdapat di wilayah perairan laut Muna dan Bombana," kata Kepala Dinas Kelautanan dan Perikanan Sultra Abdul Salam di Kendari, hari Senin (25/10/10).

Kisah Pemuliaan Anggrek di Taman Ria Loka

BUNGA

Dari sebuah biji ratusan tanaman anggrek baru dihasilkan melalui upaya pemuliaan. Semua hasil pemuliaan itu kemudian disimpan dalam tabung dan botol yang tertutup rapat dalam sebuah ruangan. Bermula dari situlah anggrek-anggrek khas Jambi berkembang biak.

Setidaknya, begitulah yang kami saksikan ketika Shopia, Kepala Laboratorium Taman Anggrek Ria Loka Sri Soedewi MS, tengah berkutat dengan biji anggrek Phalainopsis violacea, salah satu jenis asli Jambi.

Anggrek Pensil di Danau Dendam Tak Sudah

Rabu, 18 Agustus 2010 | 09:38 WIB
rejang-lebong.blodspot.com
Anggrek pensil

BENGKULU, KOMPAS.com - Balai konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu berhasil membudidayakan anggrek pensil yang terancam punah di sekitar Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu.

"Anggrek pensil (vanda hookeriana) itu awalnya ditemukan beberapa batang pada habitatnya di kawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) kemudian dibudidayakan," kata Kabag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Suaprtono, Rabu (18/8/2010).

Anggrek Terbaik di Dunia Itu Hilang

Minggu, 5 September 2010 | 12:56 WIB
AMBROSIUS HARTO
ANggrek Bulan hasil persilangan

BANJARMASIN, KOMPAS.com — Anggrek terbaik di dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut ataupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.

Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Selatan Aida Muslimah di Banjarmasin, Sabtu (4/9/2010), mengatakan, anggrek lokal Phalaenopsis amabilis di dunia ini hanya ada di tiga tempat, yaitu dua tempat di Indonesia, di Bogor dan Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut; dan di Filipina.

Dari tiga tempat tersebut, kata Aida, yang hadir dalam acara buka bersama komunitas jurnalis "Pena Hijau" Kalsel, anggrek bulan Pelaihari yang paling bagus dijadikan sebagai inti silang. Hal ini disebabkan ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada anggrek jenis lainnya di daerah lain.

Dua Jenis Anggrek Sudah Sulit Dijumpai

KERAGAMAN HAYATI
Laporan wartawan KOMPAS Defri Werdiono
Senin, 6 September 2010 | 13:54 WIB
www.nationaalherbarium.nl
Anggrek Dendrobium lowii


BANJARMASIN, KOMPAS.com
- Sedikitnya dua jenis anggrek endemis Kalimantan Selatan, yakni Dendrobium lowii dan Dendrobium hepaticum saat ini sangat sulit ditemukan di alam liar. Untuk mendapatkan jenis anggrek ini orang harus berburu ke penangkar, bahkan membeli ke penangkar anggrek di luar negeri.

Anggrek Endemik Spesies Baru

KEANEKARAGAMAN HAYATI
Selasa, 28 September 2010 | 10:06 WIB
LIPI
Dua spesies anggrek asal Kalimantan yang ditemukan peneliti LIPI.

JAKARTA, KOMPAS.comDari hasil identifikasi peneliti botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan sejumlah peneliti asing, dua anggrek endemik Kalimantan dinyatakan sebagai spesies baru. Hal ini tertuang di dalam jurnal ilmiah internasional Malesian Orchid Journal yang terbit akhir September 2010.

Sebaran kedua jenis ini sangat terbatas sehingga membutuhkan perhatian khusus untuk mengonservasinya.

”Spesimen kedua jenis anggrek ini telah kami ambil sejak dua tahun lalu. Kemudian kami mengerjakan sketsa morfologi taksonominya. Sekarang, melalui sebuah jurnal ilmiah internasional, itu dinyatakan sebagai spesies baru,” kata peneliti botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala, dari Unit Pelaksana Teknis Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (27/9/2010).

Ketiga penemu kedua spesies baru yang diberi nama Dendrobium flos-wanua dan Dendrobium dianae itu adalah Destario Metusala, Peter O’Byrne (praktisi anggrek di Singapura), dan JJ Wood (peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden, Inggris).

Kakatua Terancam Punah

Senin, 1 November 2010 | 21:26 WIB
KOMPAS/GESIT ARIYANTO
Burung Kakatua.

BOGOR, KOMPAS.com — Burung kakatua di Indonesia yang tersebar di kawasan Wallacea terancam punah pada berbagai tingkatan. Tiga dari tujuh jenis kakatua yang endemik (hanya ada di Indonesia) adalah kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua putih (Cacatua alba), dan kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana). Sementara itu, kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), yang juga terdapat di Timor Leste, memiliki status keterancaman tertinggi, yaitu kritis.

Demikian siaran pers yang dikeluarkan Burung Indonesia, yang ditandatangani Fahrul P Amama, Communication and Media Relations Burung Indonesia, Senin (1/11/2010). Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestari Burung Liar Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan Bird Life Internasional (berkedudukan di Inggris) yang memfokuskan pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah.